Back to Permohonan dukungan pencalonan Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE , Ph.D sebagai Anggota Pengarah BNPB

Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U: Bersahabat dengan Fenomena Alam

Koran Seputar Indonesia
Monday, 16 February 2009

AKADEMISI sekaligus praktisi di bidang pengurangan dampak bencana ini sangat tertarik menekuni ilmu rekayasa kegempaan.

Tujuannya,untuk menyingkap tabir misteri peristiwa alam. Seperti apa? Pertanyaan yang kerap muncul di benak Prof Ir H Sarwidi MSCE PhD IP-U, mengapa banyak bangunan yang rusak setiap kali terjadi gempa? Benarkan setiap fenomena alam itu membawa kesengsaraan manusia dan meluluhlantakkan bangunan?

Sebagai seorang insinyur, Sarwidi sebenarnya sudah punya jawabannya bahwa fenomena alam tidak harus membawa bencana. Alam tidak pernah mengamuk atau murka pada manusia, tetapi manusianya masih kurang akrab dengan alamnya sendiri. Akhirnya,setiap bencana datang, kehancuran pun tiba.

Sebab,Wakil Rektor I Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta ini mengatakan, tidak ada perencanaan terutama pada bangunan, tata ruang, dan pengelolaan lingkungan sehingga selalu takluk pada kekuatan alam. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, pakar rekayasa kegempaan itu terlebih dulu melakukan penelitian,formulasi konsep, dan mengimplementasikannya di dunia nyata.

Pada 1994,dia mempelajari kerusakan gempa yang mengguncang Los Angeles, Amerika Serikat, beberapa tahun setelah berada di Negeri Paman Sam untuk mendalami bidang Rekayasa Kegempaan/ Bangunan Tahan Gempa pada program magister (S-2) Jurusan Teknik Sipil di Rensselaer Polytechnic Institute (RPI),New York.

Setelah lulus pada 1998 dari program doktor (S-3) di universitas yang sama, Sarwidi kembali dan mempelajari langsung kejadian demi kejadian di Tanah Air. ”Saya melihat dan mempelajari gempa di Blitar 1998. Saya bersama tim turun ke lapangan untuk mempelajari kejadian tersebut.

Hal yang sama saya lakukan tahun 2000 di Banyuwangi,Bengkulu, Banjarnegara, dan Sukabumi. Saya datang ke semua tempat itu,”kenangnya. Selanjutnya, rentetan gempa terjadi di Majalengka, Yogyakarta,Bali,Lombok, Aceh,dan terakhir di Bengkulu dan Padang.

”Dari semua kejadian itu, kerusakan terjadi pada rumah sederhana milik masyarakat. Jatuhnya banyak korban dalam setiap gempa bumi dis-ebabkan tertimpa runtuhan tembok bangunan. Untuk meminimalkan korban,bangunan rumah harus menggunakan teknologi tahan gempa. Jadi benar bahwa gempa atau fenomena alam tak harus membawa bencana,”katanya.

Pria ramah ini memang akrab dengan bencana alam. Mendengar ada gempa, tsunami, atau gunung api, dia tidak mungkin berdiam diri. Dari situlah pria kelahiran Sleman 1960 ini memformulasikan perlunya bangunan tahan gempa di Indonesia. Sebab, dua per tiga dari wilayah Nusantara sangat potensial diguncang gempa,kecuali Sumatera bagian timur dan Kalimantan.Lainnya,semuanya berpotensi.

Sebagai ahli konstruksi bangunan, Sarwidi lalu mengonsep bangunan tahan gempa sederhana.Bangunan tahan gempa ini terus disosialisasikan untuk meminimalkan korban saat gempa terjadi. Salah satu konsepnya diberi nama Barrataga (bangunan rumah rakyat tahan gempa) sejak 2003.

Saat gempa terjadi di Pulau Nias dan Aceh 2004 lalu, Direktur dan Peneliti Center for Earthquake Engineering Dynamic Effect and Disaster Studies UUI tersebut sudah menyosialisasikan bangunan tahan gempa.Maret 2005, sekitar satu tahun sebelum gempa kedua di Yogyakarta, dia sudah mengingatkan kepada pentingnya rumah tahan gempa.

”Kesadaran untuk membangun perumahan tahan gempa harus dilakukan karena Yogyakarta bukan daerah yang bebas gempa,” pesannya saat itu. Bangunan tahan gempa cukup sederhana dengan membuat tulang bangunan dari cor semen yang di dalamnya diberi tulang besi pada setiap rumah tembok.”Tidak perlu biaya besar karena hanya butuh tambahan besi dan cor,”sebutnya.

Sebetulnya, bencana terjadi manakala kapasitas masyarakat atau lingkungan itu tidak mampu melawan potensi atau sumber bencana dan kerentanannya.Secara kasar, dia menuturkan, semua bentuk gejala alam yang ekstrem sekalipun, belum tentu menjadikan bencana alam.Usaha mengurangi dampak dari bencana gempa tentu saja tidak untuk mengendalikan sumber gempa, tapi mengendalikan lingkungan hidup manusia dengan...

to comment